Satu ruangan, dua guru mengajar.
Samosir,Cakra
Pansus
DPRD melihat kenyataan sebenarnya bagaimana bobroknya pendidikan di
Samosir. Perhatian bukan lagi hanya terhadap nasib guru akibat mutasi.
Ternyata nasib siswa-siswi akibat mutasi guru juga sangat menyentuh
nurani mereka anggota pansus.
Bermacam-macam kejanggalan yang terjadi,
selalu ada hampir di tiap sekolah. Umumnya kejanggalan itu mempengaruhi
proses pengajaran di sekolah. Bahkan ada yang tidak masuk akal cara
belajar mengajar di kelas pada suatu sekolah. Pansus DPRD menilai
kondisi pendidikan sudah sangat memperiihatinkan, berharap supaya semua
lapisan dapat memberi perhatian pada dunia pendidikan di Samosir
Misalnya,
kelas satu dan kelas dua digabung di satu ruangan. Kelas tiga dengan
kelas
empat. Guru kelas satu memasuki ruangan kelas, demikian juga guru kelas
dua. Kedua guru itu sama-sama mengajar di satu ruangan kelas. Guru
kelas satu mengatakan pada muridnya "satu tambah satu! sama dengan?".
Dalam waktu bersamaan guru kelas dua juga megnatakan pada murid kelas
dua "matahari terbit dari sebelah mana?"
Murid kelas satu dan dua yang digabung satu ruangan itu menjawab bersahutan "Dua, terbit dari timur, bu!",
Guru
kelas satu lanjut bertanya, "dua tambah dua, berapa!". Disambut oleh
guru kelas dua juga bertanya pada muridnya, "matahari terbenam di
sebelah mana!" katanya pada kelas dua. Murid di kelas menjawab
bersahutan "empat, sebelah barat".
Menurut tiga orang anggota
Panitia Khusus (Pansus) DPRD, Jungjungan Situmorang, Tuaman Sagala dan
Ridwan Sitanggang, sekolah ini berada di Kecamatan Palipi Kabupaten
Samosir. Mereka berkunjung ke sekolah yang bernama SD Batu Jagar 6/10,
hanya memiliki 4 ruang kelas. Tuaman Sagala
menceritakan bagaimana guru kelas satu dan guru kelas dua sama-sama
mengajar di satu ruangan.
Membawakan mata pelajaran yang
berbeda. Guru kelas satu mengajar matematika, guru kelas dua mengajar
Bahasa Indonesia. Papan tulis juga ada dua. Tidak ada sekat atau
pembatas. Kedua guru sama-sama di depan kelas saling berdampingan
memberi pelajaran. Tuaman tidak menyangka masih ada situasi belajar
mengajar yang seperti itu di Samosir.
 |
| Ridean Sitanggang |
Sekolah ini bahkan
terlupakan dari pengawasan Dinas Pendidikan. Jungjungan Situmorang ketua
Pansus DPRD yang melihat buku daftar kunjungan pengawas dari kepala
sekolah mengatakan, sejak akhir tahun 2009 tidak pernah ada pengawas
yang datang ke sekolah. Kepala sekolah sudah beberapa kali mengusulkan
penambahan ruang kelas.
Meski kekurangan ruang kelas namun
sekolah ini memiliki ruang perpustakaan dan ruang Unit Kesehatan Sekolah
(UKS) yang dibangun tahun 2010 lalu. Selain kelas satu dan dua, untuk
kelas tiga
dan empat yang digabung dalam satu ruangan juga terjadi proses belajar
mengajar, kata Ridwan Sitanggan. Mirip padagang di pasar. Dua guru sama
memberi penjelasan untuk mata pelajaran yang berbeda. Ridwan tak habis
pikir seandainya terjadi, satu orang guru sedang mengajarkan "manusia
adalah cipataan Tuhan". Guru yang satu lagi sedang mengajarkan Tiori
Darwin "manusia berasal dari monyet". Mungkin murid akan bingung dan
mengatakan "sada hamu guru i".
Paling memilukan, menurut
keterangan guru dan masyaraka di sana, sekolah ini termasuk sekolah
paling tua. Dibangun 2 tahun setelah Indonesia merdeka, tapi sangant
memprihatinkan.
Pansus pada dasarnya sedang melihat langsung
keadaan sekolah-sekolah akibat mutasi guru. Tetapi perhatian juga tidak
lepas terhadap kejanggalan-kejanggalan situasi proses belajar mengajar
yang terjadi di tiap sekolah yang dikunjungi. Dan hal-hal yang demikian
menjadi catatan khusus buat Pansus. Akibat kurangnya
ruang kelas dan kondisi fisik bangunan, tidak tertutup kemungkinan para
anggota pansus juga akan menelusuri tentang pelaksanaan DAK tahun 2006
s/d 2010.
Apakah dalam ruang lingkup sebagai Pansus atau sebagai
anggota DPRD, tergantung bagaimana mekanismenya nanti, kata Tuaman
Sagala. Bukan tidak mungkin DPRD membentuk Panitia Khusus untuk masalah
DAK. Tapi kita masih menelusuri, karena masih banyak sekolah yang belum
dijalani, kata Ridwan menambahkan.
Hampir semua bentuk program di
dinas pendidikan mendapat kejanggalan menurut anggota Pansus. Rosinta
Sitanggang megatakan kalau pengajuan dana BOS juga menimbulkan
pertanyaan serius. Hal ini menurutnya setelah melihat jumlah siswa di
sekolah-sekolah yang telah dijalani. Ada indikasi jumlah usulan tidak
sesuai dengan fakta. Tapi ini masih indikasi, yang jelasnya nanti
setelah perjalanan pansus selesai, rekan wartawan sabar dulu, kata
Rosinta.
Tuaman Sagala yang sudah periode kedua
menjadi anggota DPRD dengan nada sedikit kecewa mengatakan, selama ini
DPRD termasuk saya sendiri, memang terbuai dengan apa yang dilaporkan
oleh eksekutip tentang kondisi pendidikan yang terus mengalami
peningkatan. Namun kenyataan setelah mengunjungi sejumlah sekolah, "jauh
panggang dari api". Jawaban-jawaban para guru dan kepala sekolah
termasuk pengawas, mengandung sebuah kesimpulan adanya sesuatu yang
sangat urgen dalam dunia pendidikan di Kabupaten Samosir. Seorang Kepala
UPTD, pengawas sekolah bergelar sarjana, bahkan mengakui tidak tahu apa
tugas dan fungsinya selain mengantar surat. Dari Dinas mengantarkan
surat ke sekolah. Dan dari sekolah menerima jawaban surat lalu
mengantarkan ke dinas. Padahal UPTD mempekerjakan tiga staf di
kantornya.
Di lokasi sekolah yang dikunjungi, keluhan tentang
kondisi pendidikan juga disampaikan warga sebagai orang tua murid.
Lebih mengarah pada mutu dan kwalitas anak-anak mereka yang belajar di
sekolah. Karena mutasi tak ada guru mengajar di kelas, katanya. Sangat
ragu dengan kelanjutan pendidikan murid. Melihat kondisi yang
sebenarnya, secara pribadi sebagai anggota dewan saya tidak menyalahkan
masyarakat Samosir yang ,jika mengatakan DPRD kurang peduli, kata
Tuaman.
Anggota pansus yang memasuki minggu ketiga mulai
menghadapi rintang dalam mendapatkan keterangan yang sebenarnya dari
para tenaga pendidik. Sehingga menurut .Junjungan selaku ketua Pansus
mereka harus extra serius dalam mengadakan kunjungan lapangan.
Keterangan guru dan keterangan yang dinerikan kepala sekolah mulai
berbeda-beda. Tentang kehadiran pengawas guru di SD 173721 Kecamatan
Palipi mengatakan "pangawas tidak pernah datang ke sekolah". Bahkan
mereka para guru di sana tidak mengenal siapa pengawas. Mereka juga
menunjukkan daftar hadir sebagai bukti ketidak hadiran pengawas. Tetapi
Kepala sekolah M Sihombing berupaya menutupi dan berbohong pada pansus,
mengatakan, "pengawas sering datang ke sekolah".
Jika sudah
demikian sikap seorang guru apalagi kepala sekolah, diragukan ia juga
mengajar murid-muridnya berbohong. Hal ini merupakan virus yang sangat
berbahaya untuk kelangsungan pendidikan. Memang banyak ditemukan jawaban
kepala sekolah atau pengawas yang terkesan membela kebijakan mutasi
guru. Mereka yang tidak dirugikan atau bahkan diuntungkan karena mutasi.
Sedangkan tentang mutasi yang sarat KKN, Ridwan mengatakan sudah ada
indikasi tapi belum sempurna sebagai bukti kuat .
Apa yang sedang
dikerjakan Pansus tentang mutasi saat ini, ternyata hanya sebagian
kecil dari masalah pendidikan yang ada di Samosir. Perbaikan pendidikan
di Samosir secara total tidak cukup hanya melalui lembaga perwakilan
rakyat, apalagi hanya setingkat pansus. Melainkan sudah waktunya
pihak-pihak yang ikut peduli, baik yang berada di perantauan turut
memperhatikan pendidikan di Samosir. Dan kepedulian ini
mulai muncul dari berbagai kalangan baik secara pribadi, Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM) serta rekan-rekan yang di media. Pansus tidak
lagi sekadar melihat nasip guru, melainkan juga nasib siswa-siswi
sebagai generasi penerus Kabupaten Samosir, kata Tuaman.<<Hayun
Gultom