Pendidikan di Samosir "Dang Tarandunghon"
Ramses Simanjuntak, Onan Runggu
Kisah nyata seorang tenaga honorer di Kabupaten Samosir. Mengajar di
salah satu sekolah di Kecamatan bagian paling timur pulau Samosir.
Mengisahkan nasibnya sebagai guru honor. Serta komentarnya sebagai guru,
tentang pendidikan di Samosir akhir-akhir ini. "Na porsuk do anggo hami
na honor on" katanya dalam bahasa Batak.
Menggantungkan
harapannya pada dana Bantuan Operasional Sekolah. Mestinya dana BOS bisa
di terima oleh si Honorer pertriwulan, namun terkadang bisa sampai
empat bulan, bahkan lima bulan dia baru menerima upah.
Seperti
pemintaan si honor, sebut saja namanya Porsuk ("molo bahenonmuna tu
koran unang bahen goarhu. 'Si porsuk' ima bahen goarna"). Usianya 40
tahun, seorang tenaga honorer di dinas Pendidikan PemKab Samosir.
Anak empat, dua orang sudah memasuki usia sekolah. Porsuk seorang sarjana, dan merasa cukup pintar menurut pengakuannya.
Dulu
sewaktu masih sekolah, dia sering menjadi the best di kelasnya. Hanya
saja, dia merasa tidak cukup beruntung untuk menjadi PNS.
Dengan
usia yang sudah diambang batas, si Porsuk selalu berharap adanya
pengangkatan otomatis menjadi PNS. Dia takjub dengan slip gaji yang di
tandatangani oleh para guru PNS, setiap awal bulan. Belum lagi tunjangan
sertifikasi bagi yang sudah menerimanya, di tambah tunjangan lainnya.
Menurutnya, untuk ukuran seorang PNS yang tinggal di kampung, jumlah itu sudah cukup lumayan banyak.
Si porsuk sudah lima tahun menjadi tenaga honorer. Sebelumnya dia
seorang
sopir angkutan kota di Jakarta. Adu jotos sesama sopir angkot, cekcok
dengan preman jalanan, lalu ditampar oleh oknum petugas berseragam,
sudah menjadi menu kesehariannya. Sering dia pulang ke rumah dengan
wajah yang memar dan bengkak. Sehingga lama kelamaan, si Porsuk merasa
sangat tidak manusiawi dan bermartabat.
Situasinya sangat tidak
sesuai dengan ijazah sarjana yang di kantonginya. Di tambah dengan
tekanan isteri dan keluarganya yang lain, akhirnya dia memboyong
keluarga pulang kampung. Jadilah dia menjabat status sebagai tenaga
honorer.
Sudah lima tahun si Porsuk jadi tenaga honorer. Saban
hari, kecuali minggu dia pergi bertugas. Dari pukul 07.30 sampai pukul
13.00. Honornya tidak seberapa, hanya sekitar 500.000 Rupiah sebulan.
Honor itu dia terima sekali dalam empat atau lima bulan. Selama itu, dia
harus banting tulang menambah penghasilan untuk menghidupi keluarganya.
Bersama
isterinya, dia mengusahakan sebidang tanah yang di tanami padi.
Terkadang, hasil panennya baik, lain waktu rusak. Pada saat hasil panen
tidak memuaskan, biasanya si Porsuk terpaksa harus mencari pinjaman
kesana kemari. Lalu pada saat dia mendapat upahnya dari dana BOS, habis
untuk menutup utang utangnya.
Si Porsuk tetap merasa bersyukur
bisa menjadi tenaga honorer, meskipun kehidupannya selalu pas-pasan.
Sebab, dia tahu dan melihat sendiri banyak tenaga honorer yang dipecat
tanpa alasan yang kurang jelas. Lagi pula, dengan menjadi tenaga
honorer, dia punya jaminan untuk mencari pinjaman kepada teman-teman
sekorpsnya.
Namun tak bisa di pungkiri, sering si Porsuk merasa
lelah sendiri, memikirkan keadaan yang dialaminya. Dia kawatir tidak
bisa menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi.
Memang, dia sering mendengar tentang program-program bea siswa bagi anak
anak usia sekolah dan
di bangku perkuliahan. Tapi menurutnya, program beasiswa itu terkadang
tidak objektif.
Sering beasiswa itu diberikan kepada orang yang
tidak tepat. Dengan sedikit pendekatan yang dilakukan oleh orang tua
siswa kepada guru, maka siswa bisa memperolehnya.
Seandainyapun
si Porsuk bisa melakukan itu, hanya terbatas sampai pada tingkat SLTA.
Untuk tingkat Universitas, biasanya lebih sulit.
Si porsuk juga
sering mengeluhkan dunia pendidikan di Samosir. Menurutnya, dunia
pendidikan saat ini seperti "Dang taraddungkon" (tidak tertangiskan).
Orang tua tidak mengontrol anaknya belajar di rumah. Kebanyakan guru
tidak mempunyai displin yang baik dalam melaksanakan Proses Belajar
Mengajar, meskipun sudah digaji cukup tinggi oleh Pemerintah.
Dan satu lagi,kebanyakan Guru mempunyai selera baca yang rendah. Si Porsuk sering mempertanyakan hal ini kepada
Guru, sebab bagaimana caranya seorang guru bisa mengajar dengan baik, kalau tidak mempunyai pengetahuan yang luas.
Di tambah kontrol yang lemah dari dinas terkait, kemungkinan besar
siswa-siswi dari daerah ini tidak akan bisa bersaing dengan siswa-siswi
dari daerah lain di tingkat bangku perkuliahan.
Belum lagi imbas
dari mutasi guru yang hangat sekarang ini. Membuat pendidikan di Samosir
benar-benar "dang tarandukkon". Meski beberapa guru sudah menangis
namun tidak mengubah kebijakan penguasa. Loyalitas lebih penting
daripada kemanusiaan. Pendidikan semakin "dang tarandukkon". Kepada
mereka yang sudah PNS saja begitu, apalagi kami yang honor.
Tahun
lalu honor juga sudah menangis karena dipecat dan diancam akan dipecat.
Meski tak tertulis, tapi pasti banyak yang tahu, semua terjadi karena
imbas politis pemilukada.
"Manis jangan langsung di telan, pahit
jangan
langsung dibuang". Pepatah itu terpatri kuat di benak si Porsuk,
sehingga dia mencoba tetap bertahan sebagai tenaga honorer. Dia sangat
berharap, suatu waktu nanti bisa diangkat menjadi PNS, sehingga bisa
keluar dari kemelaratan yang dialaminya.<<
CAKRA